Bioteknologi IPA
Cara Membuat Tempe



KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-nya,
Sehingga kami dapat menyelesaikan laporan tentang cara pembuatan tempe. Dan
ucapan terima kasih kepada bu Ana yang telah memberikan tugas pembuatan
bioteknologi supaya kami bisa mengetahui lebih dalam tentang bioteknologi
konvensional ini, dan juga bimbingan dari bu Wahyu dalam penyusunan kerangka
laporan ini sampai penulisan laporan dari semua itu tentu orang tua kami yang
mendukung secara materil maupun do’a terselesaikannya laporan ini
Laporan
ini dibuat untuk memberikan informasi tentang proses pembuatan tempe sehingga
dapat memberikan pengetahuan dasar, peningkatan keterampilan, untuk memulai
usaha dalam bidang makanan.
Selain itu
laporan ini diharapkan dapat membantu kita dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam yaitu Bioteknologi Konvensional pada makanan tempe. Semoga laporan ini
dapat bermanfaat bagi pembaca dan bisa dipraktekan di rumah.
Malang , 5 November 2013
penyusun
PENDAHULUAN
Definisibioteknologi
Bioteknologi berasal dari kata bio (hidup) dan teknologi,
dari kedua kata tersebut, bioteknologi didefinisikan sebagai teknologi yang
memanfaatkan organism (makhluk hidup) untuk menghasilkan produk atau jasa yang
bermanfaat bagi manusia, pada umumnya adalah berupa mikroba
Bioteknologi konvensional adalah bioteknologi yang
menggunakan mikroorganisme sebagai alat untuk menghasilkan produk dan jasa,
misalnya jamur dan bakteri yang menghasilkan enzim enzim tertentu untuk
melakukan metabolism sehingga diperoleh produk yang diinginkan. Sedangkan
bioteknologi modern adalah bioteknologi yang menggunakan teknik rekayasa
genetika, seperti DNA rekombin.DNA rekombinan yaitu pemutusan dan penyambungan
DNA, dengan cara kultur jaringan, cloning, danfusi sel.
Bioteknologi Modern adalah bioteknologi yang menggunakan
peralatan-peralatancanggih, pada proses ini dilakukan dengan cara memanipulasi
terhadap susunan genetic mikroba yang di manfaatkan, misalnya pemotongan atau
penyisipan gen, selainitu biotek nologi ini dilakukan dalam keadaan steril,
produknya lebih berkualitas, dan menghasilkan produk dalam jumlah besar
Perkembangan bioteknologi ini sejalan dengan perkembangan
dan penemuan yang diawali dengan penemuan struktur DNA oleh Watsondan Crick pada
tahun 1953
Bioteknologi konvensional merupakan bioteknologi sederhana.
Bioteknologi ini mempunyai beberapa manfaat yaitu :
1. Meningkatkan
nilai gizi dari produk–produk makana dan minuman
2. Menciptakan
sumber makanan baru, misalnya dari air kelapa dan dapat diciptakan makanan baru
yaitu nata de coco
3. Dapat membuat
makanan yang tahan lama, misalnya asinan
4. Secara tidak
langsung dapat meningkatkan perekonomian rakyat karena bioteknologi sederhana
tidak banyak membutuhkan biaya sehingga masyarakat kecil bisa melakukannya dan
menjualnya untuk keperluan hidup sehari-hari.
ANALISIS PEMBAHASAN
Cara Pembuatan Tempe
Bahan-Bahan
:
1. Kacang kedelai.
2. Ragi.
3. Air bersih.
Alat-Alat :
1. Mesin
penggiling.
2. Bak Pencucian.
3. Ebor/tempat
kedelai.
4. Tempat
cetak/leleran.
1. Perebusan pertama ½ matang kurang lebih ½ jam sampai 1
jam.
Pada
tahap awal pembuatan tempe, biji kedelai direbus. Tahap perebusan ini berfungsi
sebagai proses hidrasi, yaitu agar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin.
Perebusan juga dimaksudkan untuk melunakkan biji kedelai supaya nantinya dapat
menyerap asam pada tahap perendaman.
2. Pemecahankedelai (penggilingan).
Kulit
biji kedelai dikupas pada tahap pengupasan agar miselium berfungsi dapat
menembus biji kedelai selama proses fermentasi. Pengupasan dapat dilakukan
dengan tangan, diinjak-injakdengan kaki,
ataudengan alat pengupas kulit biji.
3. Pemisahan antara kulit dan biji kedelai dengan cara
dilembang.
4. Perendamankuranglebih 5 jam, ganti air 7 sampai 8 jam
Setelah dikupas, biji kedelai direndam. Tujuan tahap perendaman ialah
untuk hidrasi biji kedelai dan membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat
secara alami agar diperoleh keasaman yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi.
Fermentasi asam laktat terjadi dicirikan oleh munculnya bau asam dan buih pada
air rendaman akibat pertumbuhan bakteri Lactobacillus. Bila pertumbuhan bakteri
asam laktat tidak optimum (misalnya di negara-negara subtropis, asam perlu
ditambahkan pada air rendaman. Fermentasi asam laktat dan pengasaman ini
ternyata juga bermanfaat meningkatkan nilai gizi dan menghilangkan
bakteri-bakteri beracun.
5. Pencucian sampai bersih hingga air terlihat bening.
Proses pencucian akhir dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang
mungkin dibentuk oleh bakteri asam laktat dan agar biji kedelai tidak terlalu
asam. Bakteri dan kotorannya dapat menghambat pertumbuhan fungi.
6. Perebusan kedua minimal 4 jam.
Perebusan kedua ini dilakukan untuk mematangkan kedelai
sehingga siap untuk diolah menggunakan ragi tempe.
7. Ditiriskan kurang lebih 8 sampai 9 jam.
Proses ini
ditujukan untuk menghilangkan air yang ada dalam kedelai, untuk memberiragi,
karena ragi tidak akan meresap jika kandungan air dalam kedelai terlalu tinggi.
8. Peragian/Inokulasi.
Inokulasi dilakukan dengan penambahan inokulum, yaitu ragi tempe atau
laru. Inokulum dapat berupa kapang yang tumbuh dan dikeringkan pada daun waru
atau daun jati (disebut usar; digunakan secara tradisional), spora kapang tempe
dalam medium tepung (terigu, beras, atautapioka; banyak dijual di pasaran),
ataupun kultur R. oligosporus murni (umum digunakan oleh pembuat tempe di luar Indonesia).
Inokulasi dapat dilakukan dengan cara, yaitu penebaran inokulum pada permukaan
kacang kedelai yang sudah dingin dan dikeringkan, lalu dicampur merata sebelum
pembungkusan.
9. Pencetakan/pengemasan, tunggu kurang lebih 36 jam.
Setelah
diinokulasi, biji-biji kedelai dibungkus atau ditempatkan dalam wadah untuk
fermentasi. Berbagai bahan pembungkus atau wadah dapat digunakan (misalnya daun
pisang, daun waru, daun jati, plastik, gelas, kayu, dan baja), asalkan
memungkinkan masuknya udara karena kapang tempe membutuhkan oksigen untuk
tumbuh. Bahan pembungkus dari daun atau plastic biasanya diberi lubang-lubang
dengan cara ditusuk-tusuk.
Biji-biji kedelai yang sudah dibungkus dibiarkan untuk
mengalami proses fermentasi. Pada proses ini kapang tumbuh pada permukaan dan
menembus biji-biji kedelai, menyatukannya menjadi tempe. Fermentasi dapat
dilakukan pada suhu 20 °C–37 °C selama 18–36 jam. Waktu fermentasi yang lebih
singkat biasanya untuk tempe yang menggunakan banyak inokulum dan suhu yang
lebih tinggi, sementara proses tradisional menggunakan laru dari daun biasanya
membutuhkan waktu fermentasi sampai 36 jam.
10. Hasil akhir
(Tunggu dua hari)
BAB 2
CARA PEMBUATAN TEMPE
Perebusan pertama ½ matang kurang lebih ½ jam-1 jam
Pada tahap awal pembuatan tempe, biji
kedelai direbus. Tahap perebusan ini berfungsi sebagai proses hidrasi, yaitu
agar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan juga dimaksudkan
untuk melunakkan biji kedelai supaya nantinya dapat menyerap air sampai pada
tahap perendaman.
Perebusan minimal 2 jam
Perebusan kedua ini dilakukan untuk mematangkan kedelai
sehingga siap untuk diolah menggunakan ragi tempe dilakukan Azka.
Ditiriskankuranglebih 1-2 jam
Proses ini
di tujukan untuk menghilangkan air yang ada dalam kedelai, untuk member ragi,
karena ragi tidak akan meresap jika kandungan air dalam kedelai terlalu tinggi.
Peragian/Inokulasi
Inokulasi dilakukan dengan penambahan inokulum, yaitu ragi tempeatau
laru.Inokulum dapat berupa kapang yang tumbuh dan dikeringkan pada daun waru
atau daun jati (disebut usar; digunakan secara tradisional), spora kapang tempe
dalam medium tepung (terigu, beras, atau tapioka; banyak dijual di pasaran),
ataupun kultur R. oligosporus murni (umum digunakan oleh pembuat tempe di luar
Indonesia). Inokulasi dapat dilakukan dengan cara, yaitu penebaran inoculums
pada permukaan kacang kedelai yang sudah dingin dan dikeringkan, lalu dicampur
merata sebelum
pembungkusan dikejakan oleh terry, tri krisna, iqbal
Pencetakan/pengemasan,tunggu kurang lebih 36 jam
Setelah diinokulasi, biji-biji kedelai dibungkus atau ditempatkan dalam
wadah untuk fermentasi. Berbagai bahan pembungkusan atau wadah dapat digunakan
(misalnya daun pisang, daun waru, daun jati, plastik, gelas, kayu, dan baja),
asalkan memungkinkan masuknya udara karena kapang tempe membutuhkan oksigen
untuk tumbuh. Bahan pembungkus dari daun atau plastik biasanya diberi
lubang-lubang dengan cara ditusuk-tusuk.
Biji-biji kedelai yang sudah dibungkus dibiarkan untuk mengalami proses
fermentasi. Pada proses ini kapang tumbuh pada permukaan dan menembus biji-biji
kedelai, menyatukan yang menjadi tempe. Fermentasi dapat dilakukan pada suhu 20
°C–37 °C selama 18–36 jam.Waktu fermentasi yang lebih singkat biasanya untuk
tempe yang menggunakan banyak inoculums dan suhu yang lebih tinggi, sementara
proses tradisional menggunakan laru dari daun biasanya membutuhkan waktu
fermentasi sampai 36 jam. Pencetakan dilakukan oleh choiriyah, azka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar